//
you're reading...
artikel

Alat Peraga Dalam Proses Belajar Mengajar

Salah satu tugas guru dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar adalah merencanakan dan menentukan sarana atau alat peraga yang akan digunakan di dalam KBM menyangkut pengadaan dan penggunaannya.
Pengadaan alat peraga sampai saat ini sudah banyak ragamnya. Pemerintah lewat Dinas Pendidikan telah banyak mengirim alat peraga ke sekolah – sekolah, seperti alat peraga IPA, IPS, Matematika serta alat peraga pelajaran lainnya. Selain itu, lewat dana operasional hampir dapat dipastikan setiap tahunnya sebagian digunakan untuk membeli alat – alat peraga.
Jika alat peraga yang tersedia kurang memadai bahkan atau tidak ada sama sekali untuk mengajarkan suatu konsep tertentu maka guru dituntut untuk membuat alat peraga sederhana dengan bahan yang murah dan mudah didapat. Setiap sekolah dimanapun berada selalu kaya akan lingkungan yang bisa dipakai sebagai sumber belajar dan kaya akan bahan-bahan untuk membuat alat peraga.
Dengan adanya lingkungan yang kaya akan bahan untuk membuat alat peraga, pemerintah membantu dengan mengirimkan buku-buku petunjuk dan pedoman tentang pembuatan alat peraga dengan bahan yang dapat didapat di lingkungan sekolah.
Maksud pemerintah mengirim buku pedoman tersebut antara lain untuk mengajak sekolah agar berperan serta dalam penyediaan alat peraga serta memupuk kreatifitas guru maupun murid dalam pembuatan, penggunaan dan pemeliharaan alat peraga sehingga diharapkan akan memperlancar serta meningkatkan mutu proses belajar mengajar.
Alat peraga yang sudah ada harus dapat digunakan sebagaimana mestinya. Tidak hanya ditulis dalam rencana pembelajaran. Seorang guru harus menguasai dengan baik setiap alat peraga yang akan digunakan, oleh karena itu perlu kreatifitas guru untuk berusaha mencari tahu tentang penggunaan berbagai alat peraga dan dapat menghubung-hubungkan penggunaan alat peraga untuk beberapa mata pelajaran. Mungkin ada alat peraga yang dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran. Dalam hal ini guru tidak perlu membatasi dalam menggunakan alat peraga sepanjang sesuai dengan konsep yang diajarkan.
Perlu diperhatikan pula setelah alat peraga digunakan sebaiknya disimpan. Tidak ditinggalkan begitu saja di kelas. Bahkan sebagai pajangan, karena fungsi alat peraga bukan untuk pajangan walaupun ada beberapa alat peraga yang dapat dipajang. Alat peraga yang selalu dipajang akan membosankan siswa. Siswa kurang tertarik jika suatu saat alat peraga tersebut digunakan lantaran setiap hari melihatnya. Di samping itu juga untuk menjaga agar tidak rusak oleh tangan-tangan siswa yang usil yang tidak bertanggung jawab.
Fungsi Alat Peraga
Secara individual setiap siswa mempunyai perbedaan dalam memahami konsep tertentu. Ada yang hanya mendengar penjelasan guru siswa langsung mengerti. Namun banyak pula yang harus melihat bahkan berbuat baru mengerti konsep yang sebenarnya.
Jean Piaget (dalam Abim Syamsudin 2003 : 50) memberi rambu-rambu (guidelines) dalam pembelajaran. Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak SD berada pada tahap perkembangan operasional konkrit. Pada anak usia ini akan lebih mudah dipahami jika menggunakan obyek-obyek konkrit dan anak terlibat langsung didalamnya. Hal ini mengisyaratkan kepada guru untuk mampu mengekplotiasi sumber daya yang ada untuk dijadikan sumber dan alat peraga dalam pembelajaran dan mampu merancang pembelajaran yang dapat melibatkan anak secara aktif. Alat peraga memiliki peran penting dalam pembelajaran.
Vormon A. Magnesen juga memperkuat pendapat di atas. Menurut Magnesen (dalam Cipta Waluya, 2003 : 13) ” … siswa belajar 10 % dari apa yang mereka baca, 20 % dari apa yang mereka dengar, 30 % dari apa yang mereka lihat, 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar, 70 % dari apa yang mereka katakan, 90 % dari mereka yang katakan dan lakukan”.
Menurut Encyclopidia of Education Resources ( Rusna Ristasa , 2006 : 41) nilai atau manfaat alat bantu pendidikan adalah sebagai berikut :
a. Melaksanakan dasar-dasar berpikir konkrit dan mengurangi verbalisme
b. Memperbesar minat dan perhatian siswa
c. Meletakan dasar-dasar penting untuk perkembangan belajar, sehingga membuat pelajaran lebih mantap.
d. Memberi pengalaman yang nyata dan dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
e. Menumbuhkan pikiran yang teratur dan kontinu
f. Membantu tumbuhnya pengertian perkembangan kemampuan berbahasa
g. Memberi pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, serta membantu perkembangannya efisiensi yang lebih mantap dan mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar alat peraga sangatlah penting khususnya pada siswa Sekolah Dasar. Dalam proses belajar mengajar alat peraga mempunyai beberapa fungsi, antara lain :
Pertama, dengan menggunakan alat peraga konsep, ide atau pengertian tertentu dapat dijelaskan secara langsung dan dilihat bahkan diperbuat oleh siswa. Dengan melihat ataupun berbuat siswa akan mengingat lebih banyak konsep yang diajarkan dibandingkan jika siswa hanya mendengarkan saja apa yang dijelaskan guru.
Kedua, dengan menggunakan alat peraga akan menarik perhatian dan minat belajar siswa sehingga siswa akan lebih aktif berpikir dan berpartisipasi dalam pemecahan masalah.
Ketiga, dengan menggunakan alat peraga siswa dapat melihat hubungan ilmu yang didapat dengan lingkungan sekitar sehingga siswa tidak verbalisme.
Mengingat pentingnya alat peraga dalam proses belajar mengajar maka alangkah baiknya jika konsep tertentu yang betul-betul membutuhkan alat peraga diajarkan dengan menggunakan alat peraga. Bukankah sebagai guru akan merasa senang dan bangga, jika anak didik kita selalu menguasai konsep yang kita ajarkan ?

Penulis adalah Guru SD Negeri 3 Siwarak
Kecamatan Karangreja, Purbalingga

About NANAISNA

Belajar untuk Menimba Pengalaman

Diskusi

2 thoughts on “Alat Peraga Dalam Proses Belajar Mengajar

  1. As.Wr.Wb

    Alat peraga memang sangat membantu guru waktu menjelaskan materi agar mudah dimengerti para siswa.

    Posted by sri hartini | 22/10/2010, 11:32 am
  2. Sy pernah bertanya pada seorang intruktur renang bagaimana caranya supaya bisa berenang. Jawabnya, “mudah… asal berani nyebur”,… klw dah nyebur selanjutnya bagian instruktur. Sy mengodopsi kata itu untuk kasus yang berbeda, bagaimana supaya pinter menulis karya ilmiah? Jawabnya asal berani menulis, klw dan ada tulisan slalu ada supervisor yang akan membantu Anda. Teruslah menulis……

    Posted by Rusna Ristasa | 08/02/2011, 7:45 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2010
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d blogger menyukai ini: